Bismillah Ar-Rahmaan Ar-Rahiim

Wednesday, September 26, 2012

Pandangan Sederhana dalam Proses Pendidikan

Salam...


Sedikit terlintas di dalam fikiran penulis akan pentingnya cara menyampaikan informasi dalam suatu proses pendidikan, dikarenakan terlalu banyak materi yang diberikan namun terkadang belum mengena kepada manfa'at dari apa yang kita dapatkan.

Sebagai contoh penulis coba sampaikan, begitu banyak materi di lembaga pendidikan formal yang disampaikan, banyak yang tidak sesuai dengan "seberapa butuh"-nya materi yang diajarkan tersebut bagi peserta didik. Ketika murid Kelas IV SD harus belajar PkN tentang lembaga-lembaga tinggi negara, wawasan tentang wakil rakyat, termasuk sekelumit tugas dan fungsinya. Belum lagi materi PLBJ yang menginformasikan tentang Jakarta, tapi tidak menitikberatkan kepada budaya dan sejarah Jakartanya. Ini hanya beberapa contoh lho, dari banyak materi pendidikan di tingkat SD yang pernah penulis temukan ternyata tidak tepat sasaran sesuai kebutuhan para peserta didik.

Penulis mencoba memberikan penapat yang mungkin ada manfa'atnya bagi para pembaca seputar materi pendidikan itu sendiri dan apa out-put utama yang menjadi bekal awal seorang peserta didik untuk tingkat berikutnya.


1. Berikan materi yang mendasar dan sampaikan penjabarannya dengan cara yang sederhana dan semenarik mungkin.

Materi Yang di ajarkan harus mempunyai tujuan untuk membekali para peserta didik akan pentingnya apa yang mereka pelajari pada saat itu. Contohnya seperti menghafal perkalian. Mengapa menghafal perkalian itu penting? Banyak permasalahan para siswa sa'at ini yang sudah kelas 6 SD belum hafal perkalian. Yang mereka lakukan sehari-hari setiap ada soal berhitung selalu saja menggunakan jari tangannya untuk menghitung berapa kelipatan dari  perkalian yang mereka coba cari tahu jawabannya. Karena menghafal perkalian sejak Kelas 3 SD yang belum di tanamkan oleh para pendidik di sekolah ataupun oleh orang tua di rumah, hal ini menjadi penghambat para peserta didik dalam membagi atau mengalikan suatu bilangan. Bahkan, mereka lebih senang berhitung dengan jari dan tangan mereka ketika mencari nilai dari suatu perkalian atau pembagian dari pada mereka berlatih menghafal perkalian yang sekaligus juga dapat menghafal nilai pembagiannya ( dalam kasus ini perkalian dari 1 s/d 10). 
Yang penulis coba sampaikan adalah, mengapa pendidikan menghafal perkalian pada tingkat SD untuk mata pelajaran Matematika ini yang sangat-sangat mendasar dan menjadi penentu lancarnya seorang peserta didik dalam menyelesaikan masalah berhitung dalam setiap materi yang diajarkan pada mata pelajaran matematika tidak di prioritaskan oleh pihak sekolah sebagai materi sederhana dan sangat mendasar untuk bekal pendidikan mereka pada tingkatan pendidikan berikutnya? 

Para pendidik seharusnya peka akan hal ini, namun proses ini tidak di lihat sebagai masalah dan selalu di anggap biasa. Berapa banyak para peserta didik dari kelas 3 SD s/d kelas 6 SD yang akhirnya mendapatkan nilai dibawah 6 hanya karena mereka belum lancar berhitung perkalian dan pembagian? Berapa banyak waktu mereka habis untuk menghitung kelipatan suatu perkalian dengan jari tangan mereka dari pada mereka bersemangat untuk menghafal perkalian (1 s/d 10 ). Penulis berharap para pendidik mulai peka dan melihat kekurangan ini sebagai penghambat proses berhitung para siswa, sehingga di masa mendatang masalah ini tidak lagi terjadi bagi siswa kelas 3 s/d kelas 6 SD.



2.  Apa yang dibutuhkan para peserta didik pada usianya, maka fokuskan kepada beberapa hal penting. 

Hal ini juga menjadi masalah dalam proses pendidikan. Begitu banyak materi pendidikan pada tingkatan sekolah dasar yang tidak sesuai dengan usia para peserta didik. Materi tentang ketatanegaraan sudah diajarkan secara gamblang pada tingkatan kelas IV SD. Apa urgensi-nya hingga materi itu dianggap penting? Belum lagi materi kelas 1 SD yang sudah diperkenalkan tentang surga & neraka serta seperti apa kematian itu dengan kemasan yang jelas-jelas di luar kemampuan berfikir para peserta didik.

Demikian pula dalam sajian buku pelajaran yang disiapkan; ada buku cetak dan ada buku lks (lembaran kerja siswa). Tidak sedikit soal-soal yang ada di buku cetak dan buku lks akhirnya hanya di isi sebagian, atau bahkan tidak di isi. Terkadang sudah dikerjakan tapi tidak diperiksa. Belum lagi ada soal lks yang perlu jawaban akhirnya saja (sangat-sangat bertentangan untuk pendidikan mata pelajaran matematika). Begitu mudahnya para pendidik membiarkan hal ini terjadi berlarut-larut, karena bagi penulis hal ini sama saja tidak menghargai usaha para peserta didik dalam mengerjakan tugas dari para pendidik. Kalau memang tugas lks itu tidak memberikan manfa'at bagi para siswa, seharusnya lks itu ditiadakan dan fokus kepada soal-soal latihan pada buku paket dan soal tambahan dari para pendidik. Bukan malah terus membiarkan ketidak-efektivan ini terus terjadi, bukankah pihak pendidik dan kemendiknas pendidikan dasar dan menengah ada program evaluasi dari hasil proses pendidikan belajar dan mengajar? Mereka para siswa di didik dengan memberikan wawasan yang mendasar namun mampu membuka wawasan yang lain, karena setiap bidang ilmu itu ada sangkut-pautnya. Mata pelajaran tidak perlu banyak, buku panduan tidak perlu banyak, tapi apa yang ada pada bahan ajar itu sebaiknya diprioritaskan untuk dikuasai oleh peserta didik dengan cara yang sederhana dan menarik perhatian para peserta didik itu sendiri

Fyuhhh... peserta didik seharusnya tidak terbebani oleh tugas-tugas sekolah, jika mereka menikmati apa yang mereka kerjakan dan mereka usahakan setelah mereka tahu apa manfa'at dan keuntungan dari apa yang mereka pelajari di sekolah. Pihak pendidik di sekolah juga seharusnya sudah mulai mengevaluasi diri dimana letak permasalahannya dan lakukan perubahan sebagai solusi berhasilnya pendidikan para siswa. Bukan membebankan ketidak-berhasilan kepada para siswa dan orang tua siswa. Orang tua siswa juga punya peran yang sangat penting untuk memberikan motivasi dan evaluasi kepada anak-anak mereka, agar anak tetap dalam lingkungan pendidikan yang sehat; baik di sekolah maupun di masyarakat.


Salam...


Jakarta, 26 September 2012


Thursday, September 20, 2012

Belajar Mandiri Mendidik Kita Untuk Memiliki Tanggung Jawab

Salam....


Setelah mengikuti perkuliahan hampir 2 pekan, Alhamdulillah banyak pelajaran yang dapat dijadikan bahan evaluasi diri untuk terus belajar memaknai diri dan lingkungan bagaimana memanfa'atkan ilmu yang telah kita dapat selama menunaikan proses pendidikan. Usia dan pengalaman setiap manusia tentu berbeda, namun ilmu yang di dapat dan ilmu yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari menjadi alat ukur sejauh mana seseorang itu mau dan mampu mengapilikasikan apa yang telah ia dapatkan selama proses pembelajaran ilmu-ilmu yang ada.

Proses pendidkan yang mengedepankan kejujuran dan niat baik untuk mendapatkan ilmu pengetahuan akan menghasilkan out put yang baik pula. Pertentangan-pertentangan terhadap pola pembelajaran di bangku perkuliahan akan selalu ada, karena setiap dosen/pendidik memiliki pola transfer ilmu yang berbeda-beda. Namun tidak mengurangi tujuan dari pendidikan di perkuliahan itu sendiri. Seperti apapun pola didik yang ditampilkan oleh seorang dosen selaku pendidik di perkuliahan, tentunya harus kita ikuti. Karena dari pola mendidik yang variatif akan menambah wawasan seorang mahasiswa dalam belajar bagaimana menyikapi cara mendidik para dosen hingga apa yang mereka sampaikan dapat kita fahami dan kita terima dengan baik. Tentunya ini suatu tantangan bagi kita yang sedang mengikuti pendidikan di perkuliahan.


Belajar mandiri, itulah yang hari ini penulis rasakan. Dari beragam pola didik yang diterapkan oleh para dosen, itulah yang dapat penulis simpulkan. Mereka ingin dan mempunyai harapan besar kepada para mahasiswa untuk lebih mengedepankan pola belajar dengan kesadaran untuk belajar secara mandiri. Penulis menyimpulkan dengan belajar mandiri secara teratur dan sungguh-sungguh akan mendidik para mahasiswa untuk punya rasa tanggung jawab terhadap setiap materi kuliah yang disampaikan; mulai dari mencari buku-buku yang dipelari, mau membaca dan menganalisa setiap pembahasan yang ada, mau berdiskusi dengan sesama sahabat tentang suatu pembahasan, hingga para mahasiswa mampu menjabarkan setiap materi yang ada dengan benar dan tepat guna sesuai dengan bidangnya.


Hal ini sangatlah penting bagi kita yang sedang menempuh pendidikan di jurusan program pendidikan. Karena suatu saat nanti kita juga akan menjadi pendidik sebagaimana para pendidik hari ini. Cita-cita mahasiswa memang sungguh beragam. Namun rasa tanggung jawab kita dalam mengikuti proses pendidikan di perkuliahan ini akan memberikan pelajaran penting bagi kita bagaimana kemandirian dalam belajar dan menyikapi setiap masalah akan menghantarkan kita menjadi manusia yang jujur dan disiplin dalam kehidupan kita.


Salam...


Jakarta, 20 September 2012

Saturday, September 15, 2012

Belajar Dari Pendidik Dan Peserta Didik

Salam....

Alhamdulillah....Allah masih memberikan kita kesempatan untuk belajar dalam kehidupan ini. Tahun ini penulis niatkan diri untuk memulai kembali belajar di lembaga pendidikan formal setelah sebelumnya belum menyelesaikan studi yang pernah di tempuh 13 tahun yang lalu. Dulu, sangatlah berbeda dengan sekarang. Dulu selalu punya cita-cita yang sedikit menjadi ambisi, harus sekolah di perguruan tinggi  negeri yang punya nama. Memang, dulu cita-cita itu tercapai dan Alhamdulillah dapat membuktikan bahwa masuk perguruan tinggi negeri itu tidak sulit, jika mau berusaha dan berdo'a. Hanya saja jalan kehidupan ini berkata lain, hingga saya belum menyelesaikan studi di 2 PTN yang pernah saya ikuti.

Namun kini, cara pandang penulis terhadap pendidikan itu menjadi berbeda sejak 10 tahun yang lalu, meskipun realisasi dari studi itu hadir di tahun 2012 ini. Belajar dalam lingkungan kampus di bangku perkuliahan perlu improvisasi yang positif dalam menyikapi setiap studi yang dilakukan. Kemandirian, kalau kata bapak Dosen dan ibu  Dosen itu memiliki peranan terbesar untuk membentuk sumber daya manusia pada tingkat bangku kuliah yang memiliki pola pikir sehat dan bermanfa'at untuk hari ini dan masa hadapan bagi dirinya pribadi dan lingkungan di sekitarnya. Meskipun penulis tidak mengedepankan "materi" sebagai tujuan hidup. Bagi penulis rezeki itu Allah yang menitipkan kepada hamba-Nya untuk dimanfa'atkan bersama-sama dengan orang-orang yang ada disekitarnya, dan bukan untuk diri sendiri. Agar hamba-Nya tidak punya obsesi untuk mencari materi. Allah memberikan rezeki-Nya dengan cara-Nya sendiri. Maka penulis juga belajar dari Allah bahwa rezeki-Nya yang telah menjadi hak orang lain juga harus dapat penulis sampaikan kepada mereka yang membutuhkan dalam bentuk yang baik dan bermanfa'at. Bukan hanya dalam bentuk materi yang wujud tampak terlihat jelas, tapi juga rezeki-Nya berupa Ilmu yang bermanfa'at.


Banyak pelajaran yang penulis dapatkan dari para pendidik di kampus dan dari peserta didik di tempat penulis biasa mendidik. Sungguh pengalaman ini menjadi pelajaran yang baik bagi penulis, bahwa berbagi dengan sesama itu punya kepuasan bathin yang nilainya tak terhingga nikmat dan manfa'atnya dari pada kenikmatan materi yang nikmatnya hanya sesa'at. Karena demikianlah yang penulis rasakan sejak mencoba belajar menjadi pendidik 11 tahun yang lalu.


InsyaAllah proses studi yang dulu pernah belum terselesaikan dapat ditunaikan hingga akhir masa studi strata 1. Jika ada kesempatan untuk melanjutkan ke tingkat strata berikutnya, InsyaAllah penulis akan terus belajar dari pendidik dan peserta didik dalam lingkup yang berbeda namun tetap dalam 1 niat dan tujuan; Ikhlas mendidik untuk persiapan generasi berikutnya yang lebih baik.


Salam....

Jakarta, 15 September 2012


Tuesday, July 24, 2012

Tidak Ada Pengurangan Waktu Mendidik Selama Bulan Ramadhan

Salam...

Sejak awal Ramadhan 1433 H, pendidik tetap beraktivitas mengajar les seperti biasa; baik waktu mendidik maupun penyampaian materi. Rasa haus dan lelah pasti ada; baik dalam keadaan shaum/puasa maupun tidak.

Alhamdulillah sudah berjalan 1 pekan mendidik setelah libur akhir semester genap, semua berjalan lancar. Semoga proses pendidikan ini dapat berjalan dengan baik & anak-anak didik semakin baik pula dalam perilaku dan penguasaan ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan saat belajar. Mereka juga tetap berpuasa penuh, meskipun waktu bermain di luar rumah mereka dikurangi.


Semoga puasa Ramadhan 1433 H ini membawa manfa'at bagi diri mereka selama belajar, bahwa kondisi puasa atau tidak puasa di bulan yang lain tidak mengganggu aktivitas belajar dan tidak mengurangi semangat mereka untuk belajar.


Jakarta, 24 Juli 2012

Friday, July 13, 2012

Belajar Menjadi Guru Yang Jujur

Salam.....

Lama tak hadir menulis di blog ini membuat saya banyak belajar dari pengalaman diri sendiri dan lingkungan. Sebagaimana judul tulisan ini saya buat, saya ingin berbagi sedikit pengalaman saya selama menjadi pendidik.

Sebagaimana kita ketahui bersama, banyak orang tua yang memberikan fasilitas belajar tambahan di luar waktu sekolah formal dalam bentuk bimbingan belajar & kursus/les misalanya. Dengan harapan anak-anak mereka mendapatkan pelatihan materi serta penyerapan ilmu yang lebih hingga mengerti apa yang diajarkan oleh guru di sekolah dan mampu mengerjakan latihan soal dan ulangan harian serta ujian yang diujikan. Tentunya ini semua untuk menghasilkan nilai (angka) laporan belajar yang baik.

Saya pribadi punya prinsip bahwa tugas kita mendidik mereka (para peserta didik) untuk menyampaikan ilmu yg baik dan benar yang pernah kita dapatkan agar ilmu itu tetap abadi, hingga mereka dapat mandiri di masa depan dengan bekal yang cukup hingga dapat mengabdi di lingkungan dengan mengaplikasikan setiap ilmu yang mereka terima dalam proses pendidikan yang penuh dengan tahapan dengan waktu yang tidak sebentar.

Pernah memang beberapa kali para orang tua yang mengeluhkan hasil belajar anak mereka (biasanya ketika hasil ulangan atau hasil laporan semester di sekolah sudah disampaikan kepada anak didik), ada yang mengatakan bahwa nilai anaknya tetap dan tidak ada perubahan meskipun sudah ikut les. Ada juga yang mengatakan nilainya kurang bagus. Apapun keluhan para orang tua kepada pendidik, saya pribadi menerima semua apa yang menjadi harapan mereka kepada anak-anak mereka ketika diberikan tambahan belajar seperti les di luar jam belajar formal di sekolah. Dan saya selalu mengatakan kepada mereka bahwa pendidikan ini perlu proses, dimana proses itu relatif. Karena banyak faktor yang menyebabkan kemampuan seorang peserta didik pada tingkatan tertentu. Selama proses mendidik saya selalu menyampaikan secara jujur tentang proses belajar anak-anak mereka. Jika mereka belum bisa, saya katakan belum bisa, jika sudah bisa akan saya katakan sudah bisa. Kalau anak-anak mereka sering tidak fokus dalam belajar, akan saya sampaikan dengan jujur. Sehingga orang tua juga dapat memahami bagaimana proses pendidikan anak-anak mereka ketika diberikan tambahan belajar dan seperti apa pula hasilnya. Ketika ada orang tua peserta didik yang tidak puas terhadap ilmu yang saya coba sampaikan, ya silahkan. Karena itu hak mereka mau komplain, berkeluh-kesah, dan lain sebagainya. Bahkan tidak mau meneruskan untuk les lagi juga tidak apa-apa. Karena bagi saya, pendidikan ini tidak di nilai dari angka dalam buku laporan belajar sekolah saja dalam kurun waktu tertentu. Tapi pendidikan ini perlu nilai sempurna yaitu "kejujuran". Tidak mengapa hari ini nilai di laporan belajarnya dinilai dengan anga 6 (enam), tapi peserta didik telah berupaya dengan belajar yang rajin serta jujur dalam mengerjakan materi yang di ujikan.

Pendidik dan peserta didik harus jujur satu sama lain; ketika pendidik menyampaikan ilmu yang harus mereka serap dengan baik, maka peserta didik juga harus jujur bahwa mereka siap menerima ilmu tersebut, siap untuk memahami, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka. Ketika mereka belum faham/kurang mengerti silahkan ditanyakan. Maka kejujuran itu adalah komunikasi 2 arah antara pendidik dan peserta didik, sehingga tahu permasalahan apa yang harus diselesaikan dari proses belajar mengajar itu sendiri.


Sebagai pendidik jangan pernah membela diri bahwa kita sudah bekerja optimal dengan alasan menyalahkan anak-anak didiknya dengan berbagai macam alasan kepada orang tua mereka, sementara kita tidak pernah berkomunikasi dengan jujur kepada peserta didik dan orang tua mereka.


Saya pribadi tidak akan pernah berhenti untuk mendidik, karena pendidikan itu akan menempatkan suatu tatanan kepada kehidupan yang lebih baik; sehat, seimbang, damai,  dan sejahtera


Salam

Jakarta, 13 Juli 2012



Tuesday, June 5, 2012

Peserta Didik Dengan Keragaman Sifat dan Perilaku

Salam....

Meskipun baru menjadi pendidik, telah banyak pengalaman dan pelajaran yang diambil oleh pendidik dari  beberapa murid yang pernah diajarkan dan di didik. Tidaklah sama, antara seorang peserta didik dengan peserta didik lainnya. Apa yang hingga saat ini pendidik alami adalah semakin waktu begitu banyak ujian yang diberikan Tuhan kepada pendidik dalam menunaikan Amanah-Nya. 


Anak-anak hari ini (dari pengalaman pendidik) begitu agresif dan antusias dalam hal hiburan yang menyenangkan dirinya. Saat belajar-pun mereka masih saja bercerita seputar permainan di video games atau game online di internet. Belum lagi masalah kelompok atau gank yang hari ini cukup marak di kalangan pelajar SMA, SMP, bahkan SD-pun sudah ada (kata mereka ini mengikuti senior aja yang SMP, begitu pula kata yang SMP, ini mengikuti senior yang SMA). Tidak hanya sampai disitu, pengaruh budaya yang tidak sehat seperti musik dan cara bergaul anak-anak SD yang sudah seperti anak-anak SMA dan dewasa (mereka sering membicaraan cinta, pacaran, jadian, dan lain sebagainya). Hal ini pendidik alami sendiri saat memberikan materi pelajaran di tempat pendidik mengajar. Saat mereka dilarang untuk bercerita dan fokus kepada pelajaran, mereka tetap saja mengulangi pembicaraan yang seharusnya tidak mereka ketahui.


Pendidik menilai, ada norma-norma positif yang hari ini tidak lagi di-estafet-kan oleh orang tua atau orang yang bertanggung jawab penuh terhadap pendidikan dalam membesarkan seorang anak. Seharusnya dengan besarnya pengaruh budaya negatif dalam pergaulan dan perkembangan teknologi yang serba bebas namun kebablasan tanpa adanya suatu pembatasan yang tegas dari lingkungan keluarga dan masyarakat, serta di lembaga pendidikan formal menyebabkan anak-anak hari ini cenderung tidak punya rasa tanggung jawab terhadap dirinya sendiri; mereka tidak pernah berfikir saya harus menjadi anak yang baik dan berbudi pekerti yang luhur, mendahulukan pendidikan agar mendapatkan nilai positif yang bermanfa'at untuk masa depan, serta bertanggung jawab akan tugas-tugasnya di rumah membantu orang tua.

Lihat saja hari ini, apa yang dikerjakan oleh anak-anak usia SD, SMP, bahkan SMU. Kebanyakan dari mereka hanya sibuk dengan kesenangan pribadi tanpa peduli akan masa depan pendidikan, mulai dari, sibuk dengan penyanyi atau penari musik yang membuat mereka tergila-gila, hingga lupa akan pribadi mereka. Sibuk sms dan telefon-telefon dengan teman mereka yang sebenarnya tidak perlu mereka lakukan jika hanya membahas seputar pacar, musik, cowok/cewek keren. Belum lagi tradisi tauran masal (tentunya tidak terlepas dari fasilitas telekomunikasi dan fasilitas internet ) yang sepertinya telah menjadi ritual wajib bagi mereka dari waktu ke waktu (tidak hanya disuatu tempat, tapi di banyak tempat dari pengalaman yang pendidik lihat). Juga yang berhubungan seputar nongkrong  dan wara-wiri menggunakan kendaraan bermotor gaya-gayaan sana sini (sudah tidak punya KTP, tidak punya SIM, tidak pakai pelindung kepada atau helm, boncengannya lebih dari 2 orang lagi), fyuuhh...dan yang anehnya lagi nih, orang tua mereka malah memberikan segala fasilitas yang memiliki resiko negatif yang tinggi jika hal itu terjadi.


Mau lihat dan tahu buktinya, silahkan lihat di televisi, di lingkungan tempat kita beraktivitas, dan tempat di mana kita sering melalui suatu lingkungan di sekitar kita. Kita bisa simpulkan sendiri seperti apa wajah pendidikan kita hari ini hingga menghasilkan proses pendidikan dengan kualitas moral dan perilaku para peserta didik yang lebih banyak negatifnya dari pada positifnya.


Lalu apa yang hari ini harus kita perbuat? Pendidik secara pribadi hanya bisa konsisten mengajarkan kebajikan kepada para peserta didik, meskipun mereka belum menerima atau belum merasa ajaran dan ajakan itu bermanfa'at menurut ukuran berfikir mereka. Namun pendidik optimis, jika orang tua, guru-guru di sekolah dan orang-orang disekitar mereka menerapkan hal yang sama dengan mencontohkan hal-hal yang positif, maka generasi yang hari ini belum merasa punya tanggung jawab terhadap diri mereka sendiri menjadi punya rasa tanggung jawab terhadap dirinya dan lingkungan dekatnya.

Pesan saya kepada diri saya sendiri, orang tua, dan para pendidik, berikan contoh positif kepada peserta didik yang membekas di dalam diri mereka. Jangan pernah memberikan mereka kesempatan untuk belajar hal yang negatif dan tidak bermanfa'at sejak dini, karena pendidikan negatif yang sudah berbekas di dalam diri mereka jika dibiarkan akan butuh waktu lama untuk memperbaikinya.


Berikan mereka suguhan perkataan dan perilaku bermanfa'at, agar mereka tidak lupa akan setiap kebaikan yang berguna untuk kehidupan mereka dan lingkungan. Berikan mereka tanggung jawab sejak kecil dari hal-hal yang sederhana, agar kelak tanggung jawab itu mendarah daging di dalam dirinya hingga ia dewasa nanti.


Salam


Jakarta, 05 Juni 2012

Friday, May 4, 2012

Harapan Anak Didik, Orang Tua, Dan Guru

Salam....

Hari ini hari terakhir saya mendidik 4 orang siswa SD kelas 6 di tempat saya biasa mendidik (1 murid didik di antara mereka sudah 1,5 bulan tidak hadir untuk belajar bersama). Tadi sempat berbagi cerita dengan orang tua mereka yang diantaranya mengenai persiapan menghadapi ujian dan kelulusan mereka nanti.

Ada orang tua yang sudah tidak tahu lagi harus bagaimana mengajarkan anaknya agar mau belajar dan meninggalkan kebiasaannya yang sering online di warnet, main playstation di rumah temannya yang setiap hari dilakukan hingga larut malam bahkan sampai menginap di rumah temannya yang temannya sendiri sudah tidak bersekolah lagi.

Belum lagi cerita orang tua murid yang tidak jauh berbeda, dimana anaknya tidak mau dilarang untuk tidak mengikuti acara konvoi pengajian setiap hari Sabtu malam. Hingga ke cerita orang tua murid bahwa hari ini mereka di undang ke sekolah oleh pihak guru sekolah untuk berdo'a bersama yang intinya agar soal ujian yang mereka kerjakan dapat menghasilkan nilai ujian yang tinggi. Kalau kata salah seorang orang tua murid menirukan ucapan gurunya yang mengatakan "kalau lulus sih pasti lulus bu, cuma kalau masuk ke negerinya ini yang nilainya kita tidak tahu cukup atau tidak".


Dari sekelumit cerita dan pengalaman para orang tua murid dalam mengurus anak-anak mereka dalam suatu proses pendidikan ini sebenarnya tidaklah akan terjadi seperti sekarang ini (anak-anak malas belajar, fikirannya ingin cepat pulang, terus main game online di warnet, main playstation di tempat rental atau di rumah temannya, main bola, dll) jika proses pendidikan di rumah dan di sekolah telah terbentuk sejak usia dini.

Keseriusan orang tua mendidik anaknya dengan pola yang baik dan benar serta pendidikan formal di sekolah yang serius dari para pendidik agar mendidik mereka memiliki ilmu yang baik dan budi pekerti yang baik akan menghasilkan anak-anak generasi penerus yang sehat secara jasmani dan rohani.


Tantangan terbesar memang ada pada lingkungan sekitar yang cukup dominan mempengaruhi anak-anak saat ini; dimana lingkungan yang tidak sehat akan menjadi masalah besar bagi para orang tua. Lihat saja hari ini, dimana warnet, rental playstation, penggunaan telefon selular, dan menggunakan sepeda motor untuk main-main yang dikolaborasi dengan nongkrong setiap malam menjadi ritual oleh bagi sebagian besar anak-anak dari usia dini hingga anak-anak remaja setingkat SMA.


Belum lagi dari pihak orang tua yang membiarkan begitu saja anak-anak mereka dengan aktivitas yang lebih banyak "membuang waktu" untuk senang-senang dari pada mengerjakan tugas sekolah dan aktivitas positif lainnya seperti membaca dan menonton berita seputar kehidupan sosial, ilmu pengetahuan dan teknologi, agama, dan berita-berita positif lainnya.


Saya sebagai warga di salah satu tempat tinggal di Jakarta saja  tidak mengerti akan kehidupan kota yang menjadi seperti ini; dimana fasilitas bermain yang pada akhirnya banyak merugikan banyak keluarga (orang tua) yang hidupnya pas-pasan seperti warnet dan rental PS tidak pernah ada kontrol yang jelas dari pihak RT/RW/Kelurahan akan peraturan penggunaan fasilitas berbayar tersebut untuk anak-anak usia sekolah. Bayangkan saja, tidak pagi, siang, dan malam rata-rata warnet dan rental PS penuh dengan anak-anak (hal ini juga di alami oleh murid-murid di tempat saya mendidik).


Semoga saja pihak pemerintah dan pengelola lingkungan dalam lingkup yang lebih kecil memperhatikan permasalahan ini secara serius, agar tidak ada lagi anak-anak usia sekolah yang tidak mau sekolah, malas sekolah, malas belajar, dan cuek terhadap pendidikan mereka.


Salam


Jakarta, 04 Mei 2012