Bismillah Ar-Rahmaan Ar-Rahiim

Friday, July 13, 2012

Belajar Menjadi Guru Yang Jujur

Salam.....

Lama tak hadir menulis di blog ini membuat saya banyak belajar dari pengalaman diri sendiri dan lingkungan. Sebagaimana judul tulisan ini saya buat, saya ingin berbagi sedikit pengalaman saya selama menjadi pendidik.

Sebagaimana kita ketahui bersama, banyak orang tua yang memberikan fasilitas belajar tambahan di luar waktu sekolah formal dalam bentuk bimbingan belajar & kursus/les misalanya. Dengan harapan anak-anak mereka mendapatkan pelatihan materi serta penyerapan ilmu yang lebih hingga mengerti apa yang diajarkan oleh guru di sekolah dan mampu mengerjakan latihan soal dan ulangan harian serta ujian yang diujikan. Tentunya ini semua untuk menghasilkan nilai (angka) laporan belajar yang baik.

Saya pribadi punya prinsip bahwa tugas kita mendidik mereka (para peserta didik) untuk menyampaikan ilmu yg baik dan benar yang pernah kita dapatkan agar ilmu itu tetap abadi, hingga mereka dapat mandiri di masa depan dengan bekal yang cukup hingga dapat mengabdi di lingkungan dengan mengaplikasikan setiap ilmu yang mereka terima dalam proses pendidikan yang penuh dengan tahapan dengan waktu yang tidak sebentar.

Pernah memang beberapa kali para orang tua yang mengeluhkan hasil belajar anak mereka (biasanya ketika hasil ulangan atau hasil laporan semester di sekolah sudah disampaikan kepada anak didik), ada yang mengatakan bahwa nilai anaknya tetap dan tidak ada perubahan meskipun sudah ikut les. Ada juga yang mengatakan nilainya kurang bagus. Apapun keluhan para orang tua kepada pendidik, saya pribadi menerima semua apa yang menjadi harapan mereka kepada anak-anak mereka ketika diberikan tambahan belajar seperti les di luar jam belajar formal di sekolah. Dan saya selalu mengatakan kepada mereka bahwa pendidikan ini perlu proses, dimana proses itu relatif. Karena banyak faktor yang menyebabkan kemampuan seorang peserta didik pada tingkatan tertentu. Selama proses mendidik saya selalu menyampaikan secara jujur tentang proses belajar anak-anak mereka. Jika mereka belum bisa, saya katakan belum bisa, jika sudah bisa akan saya katakan sudah bisa. Kalau anak-anak mereka sering tidak fokus dalam belajar, akan saya sampaikan dengan jujur. Sehingga orang tua juga dapat memahami bagaimana proses pendidikan anak-anak mereka ketika diberikan tambahan belajar dan seperti apa pula hasilnya. Ketika ada orang tua peserta didik yang tidak puas terhadap ilmu yang saya coba sampaikan, ya silahkan. Karena itu hak mereka mau komplain, berkeluh-kesah, dan lain sebagainya. Bahkan tidak mau meneruskan untuk les lagi juga tidak apa-apa. Karena bagi saya, pendidikan ini tidak di nilai dari angka dalam buku laporan belajar sekolah saja dalam kurun waktu tertentu. Tapi pendidikan ini perlu nilai sempurna yaitu "kejujuran". Tidak mengapa hari ini nilai di laporan belajarnya dinilai dengan anga 6 (enam), tapi peserta didik telah berupaya dengan belajar yang rajin serta jujur dalam mengerjakan materi yang di ujikan.

Pendidik dan peserta didik harus jujur satu sama lain; ketika pendidik menyampaikan ilmu yang harus mereka serap dengan baik, maka peserta didik juga harus jujur bahwa mereka siap menerima ilmu tersebut, siap untuk memahami, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka. Ketika mereka belum faham/kurang mengerti silahkan ditanyakan. Maka kejujuran itu adalah komunikasi 2 arah antara pendidik dan peserta didik, sehingga tahu permasalahan apa yang harus diselesaikan dari proses belajar mengajar itu sendiri.


Sebagai pendidik jangan pernah membela diri bahwa kita sudah bekerja optimal dengan alasan menyalahkan anak-anak didiknya dengan berbagai macam alasan kepada orang tua mereka, sementara kita tidak pernah berkomunikasi dengan jujur kepada peserta didik dan orang tua mereka.


Saya pribadi tidak akan pernah berhenti untuk mendidik, karena pendidikan itu akan menempatkan suatu tatanan kepada kehidupan yang lebih baik; sehat, seimbang, damai,  dan sejahtera


Salam

Jakarta, 13 Juli 2012



Tuesday, June 5, 2012

Peserta Didik Dengan Keragaman Sifat dan Perilaku

Salam....

Meskipun baru menjadi pendidik, telah banyak pengalaman dan pelajaran yang diambil oleh pendidik dari  beberapa murid yang pernah diajarkan dan di didik. Tidaklah sama, antara seorang peserta didik dengan peserta didik lainnya. Apa yang hingga saat ini pendidik alami adalah semakin waktu begitu banyak ujian yang diberikan Tuhan kepada pendidik dalam menunaikan Amanah-Nya. 


Anak-anak hari ini (dari pengalaman pendidik) begitu agresif dan antusias dalam hal hiburan yang menyenangkan dirinya. Saat belajar-pun mereka masih saja bercerita seputar permainan di video games atau game online di internet. Belum lagi masalah kelompok atau gank yang hari ini cukup marak di kalangan pelajar SMA, SMP, bahkan SD-pun sudah ada (kata mereka ini mengikuti senior aja yang SMP, begitu pula kata yang SMP, ini mengikuti senior yang SMA). Tidak hanya sampai disitu, pengaruh budaya yang tidak sehat seperti musik dan cara bergaul anak-anak SD yang sudah seperti anak-anak SMA dan dewasa (mereka sering membicaraan cinta, pacaran, jadian, dan lain sebagainya). Hal ini pendidik alami sendiri saat memberikan materi pelajaran di tempat pendidik mengajar. Saat mereka dilarang untuk bercerita dan fokus kepada pelajaran, mereka tetap saja mengulangi pembicaraan yang seharusnya tidak mereka ketahui.


Pendidik menilai, ada norma-norma positif yang hari ini tidak lagi di-estafet-kan oleh orang tua atau orang yang bertanggung jawab penuh terhadap pendidikan dalam membesarkan seorang anak. Seharusnya dengan besarnya pengaruh budaya negatif dalam pergaulan dan perkembangan teknologi yang serba bebas namun kebablasan tanpa adanya suatu pembatasan yang tegas dari lingkungan keluarga dan masyarakat, serta di lembaga pendidikan formal menyebabkan anak-anak hari ini cenderung tidak punya rasa tanggung jawab terhadap dirinya sendiri; mereka tidak pernah berfikir saya harus menjadi anak yang baik dan berbudi pekerti yang luhur, mendahulukan pendidikan agar mendapatkan nilai positif yang bermanfa'at untuk masa depan, serta bertanggung jawab akan tugas-tugasnya di rumah membantu orang tua.

Lihat saja hari ini, apa yang dikerjakan oleh anak-anak usia SD, SMP, bahkan SMU. Kebanyakan dari mereka hanya sibuk dengan kesenangan pribadi tanpa peduli akan masa depan pendidikan, mulai dari, sibuk dengan penyanyi atau penari musik yang membuat mereka tergila-gila, hingga lupa akan pribadi mereka. Sibuk sms dan telefon-telefon dengan teman mereka yang sebenarnya tidak perlu mereka lakukan jika hanya membahas seputar pacar, musik, cowok/cewek keren. Belum lagi tradisi tauran masal (tentunya tidak terlepas dari fasilitas telekomunikasi dan fasilitas internet ) yang sepertinya telah menjadi ritual wajib bagi mereka dari waktu ke waktu (tidak hanya disuatu tempat, tapi di banyak tempat dari pengalaman yang pendidik lihat). Juga yang berhubungan seputar nongkrong  dan wara-wiri menggunakan kendaraan bermotor gaya-gayaan sana sini (sudah tidak punya KTP, tidak punya SIM, tidak pakai pelindung kepada atau helm, boncengannya lebih dari 2 orang lagi), fyuuhh...dan yang anehnya lagi nih, orang tua mereka malah memberikan segala fasilitas yang memiliki resiko negatif yang tinggi jika hal itu terjadi.


Mau lihat dan tahu buktinya, silahkan lihat di televisi, di lingkungan tempat kita beraktivitas, dan tempat di mana kita sering melalui suatu lingkungan di sekitar kita. Kita bisa simpulkan sendiri seperti apa wajah pendidikan kita hari ini hingga menghasilkan proses pendidikan dengan kualitas moral dan perilaku para peserta didik yang lebih banyak negatifnya dari pada positifnya.


Lalu apa yang hari ini harus kita perbuat? Pendidik secara pribadi hanya bisa konsisten mengajarkan kebajikan kepada para peserta didik, meskipun mereka belum menerima atau belum merasa ajaran dan ajakan itu bermanfa'at menurut ukuran berfikir mereka. Namun pendidik optimis, jika orang tua, guru-guru di sekolah dan orang-orang disekitar mereka menerapkan hal yang sama dengan mencontohkan hal-hal yang positif, maka generasi yang hari ini belum merasa punya tanggung jawab terhadap diri mereka sendiri menjadi punya rasa tanggung jawab terhadap dirinya dan lingkungan dekatnya.

Pesan saya kepada diri saya sendiri, orang tua, dan para pendidik, berikan contoh positif kepada peserta didik yang membekas di dalam diri mereka. Jangan pernah memberikan mereka kesempatan untuk belajar hal yang negatif dan tidak bermanfa'at sejak dini, karena pendidikan negatif yang sudah berbekas di dalam diri mereka jika dibiarkan akan butuh waktu lama untuk memperbaikinya.


Berikan mereka suguhan perkataan dan perilaku bermanfa'at, agar mereka tidak lupa akan setiap kebaikan yang berguna untuk kehidupan mereka dan lingkungan. Berikan mereka tanggung jawab sejak kecil dari hal-hal yang sederhana, agar kelak tanggung jawab itu mendarah daging di dalam dirinya hingga ia dewasa nanti.


Salam


Jakarta, 05 Juni 2012

Friday, May 4, 2012

Harapan Anak Didik, Orang Tua, Dan Guru

Salam....

Hari ini hari terakhir saya mendidik 4 orang siswa SD kelas 6 di tempat saya biasa mendidik (1 murid didik di antara mereka sudah 1,5 bulan tidak hadir untuk belajar bersama). Tadi sempat berbagi cerita dengan orang tua mereka yang diantaranya mengenai persiapan menghadapi ujian dan kelulusan mereka nanti.

Ada orang tua yang sudah tidak tahu lagi harus bagaimana mengajarkan anaknya agar mau belajar dan meninggalkan kebiasaannya yang sering online di warnet, main playstation di rumah temannya yang setiap hari dilakukan hingga larut malam bahkan sampai menginap di rumah temannya yang temannya sendiri sudah tidak bersekolah lagi.

Belum lagi cerita orang tua murid yang tidak jauh berbeda, dimana anaknya tidak mau dilarang untuk tidak mengikuti acara konvoi pengajian setiap hari Sabtu malam. Hingga ke cerita orang tua murid bahwa hari ini mereka di undang ke sekolah oleh pihak guru sekolah untuk berdo'a bersama yang intinya agar soal ujian yang mereka kerjakan dapat menghasilkan nilai ujian yang tinggi. Kalau kata salah seorang orang tua murid menirukan ucapan gurunya yang mengatakan "kalau lulus sih pasti lulus bu, cuma kalau masuk ke negerinya ini yang nilainya kita tidak tahu cukup atau tidak".


Dari sekelumit cerita dan pengalaman para orang tua murid dalam mengurus anak-anak mereka dalam suatu proses pendidikan ini sebenarnya tidaklah akan terjadi seperti sekarang ini (anak-anak malas belajar, fikirannya ingin cepat pulang, terus main game online di warnet, main playstation di tempat rental atau di rumah temannya, main bola, dll) jika proses pendidikan di rumah dan di sekolah telah terbentuk sejak usia dini.

Keseriusan orang tua mendidik anaknya dengan pola yang baik dan benar serta pendidikan formal di sekolah yang serius dari para pendidik agar mendidik mereka memiliki ilmu yang baik dan budi pekerti yang baik akan menghasilkan anak-anak generasi penerus yang sehat secara jasmani dan rohani.


Tantangan terbesar memang ada pada lingkungan sekitar yang cukup dominan mempengaruhi anak-anak saat ini; dimana lingkungan yang tidak sehat akan menjadi masalah besar bagi para orang tua. Lihat saja hari ini, dimana warnet, rental playstation, penggunaan telefon selular, dan menggunakan sepeda motor untuk main-main yang dikolaborasi dengan nongkrong setiap malam menjadi ritual oleh bagi sebagian besar anak-anak dari usia dini hingga anak-anak remaja setingkat SMA.


Belum lagi dari pihak orang tua yang membiarkan begitu saja anak-anak mereka dengan aktivitas yang lebih banyak "membuang waktu" untuk senang-senang dari pada mengerjakan tugas sekolah dan aktivitas positif lainnya seperti membaca dan menonton berita seputar kehidupan sosial, ilmu pengetahuan dan teknologi, agama, dan berita-berita positif lainnya.


Saya sebagai warga di salah satu tempat tinggal di Jakarta saja  tidak mengerti akan kehidupan kota yang menjadi seperti ini; dimana fasilitas bermain yang pada akhirnya banyak merugikan banyak keluarga (orang tua) yang hidupnya pas-pasan seperti warnet dan rental PS tidak pernah ada kontrol yang jelas dari pihak RT/RW/Kelurahan akan peraturan penggunaan fasilitas berbayar tersebut untuk anak-anak usia sekolah. Bayangkan saja, tidak pagi, siang, dan malam rata-rata warnet dan rental PS penuh dengan anak-anak (hal ini juga di alami oleh murid-murid di tempat saya mendidik).


Semoga saja pihak pemerintah dan pengelola lingkungan dalam lingkup yang lebih kecil memperhatikan permasalahan ini secara serius, agar tidak ada lagi anak-anak usia sekolah yang tidak mau sekolah, malas sekolah, malas belajar, dan cuek terhadap pendidikan mereka.


Salam


Jakarta, 04 Mei 2012

Friday, April 6, 2012

Niat Saya Ikhlas Untuk Mendidik Mereka

Salam...

Demikianlah yang saya ungkapkan kepada orang tua dan kakek neneknya hari ini.

Sejak 6 bulan yang lalu saya telah berniat mendidik mereka kembali. Adalah mereka 3 orang anak didik saya yang dulu pernah saya didik selama hampir 2 tahun. Akhirnya 4 bulan yang lalu Alhamdulillah niat itu telah dapat saya tunaikan hingga saat ini. Tadi saat mengajar, murid didik saya menitipkan amplop kepada saya, katanya "om, ini dari papa", lalu saya katakan "tolong disimpan saja". Lalu kakeknya pun mengatakan "tolong disimpan saja Adek, untuk uang bensin, tapi memang jumlahnya tidak banyak", kemudian saya sampaikan "tidak apa-apa pak, saya memang sudah niat ingin mendidik mereka". 

Setelah selesai mengajar, saya pun turun ke bawah untuk izin pulang. Dan tiba-tiba kedua orang tua Aji, dan Salman, menunggu saya untuk menyampaikan amplop yang tadi disampaikan kepada saya, kata mereka itu untuk uang bensin saja, lalu saya katakan "tidak apa-apa pak, saya sudah niat untuk mendidik mereka (kebetulan sepupu Aji dan Salman sedang pulang ke Banten bersama orang tuanya, jadi saya tadi hanya mengajar Aji dan Salman saja). Setelah itu saat saya mau mengambil motor, amplop itu dimasukkan ke dalam tas saya, lalu saya keluarkan dan saya taruh di dekat jendela di dalam rumah Aji dan saya katakan saya sudah niat ingin mendidik mereka, jadi tidak apa-apa pak jika demikian adanya.

Entah karena orang tuanya yang tidak merasa enak, ataukah karena kakek mereka yang menyarankan untuk menyampaikan itu saya juga tidak tahu. Saya telah menyampaikan niat saya kepada kakek mereka untuk mendidik 3 orang cucunya 4 bulan yang lalu dan saya sudah menyampaikan bahwa niat saya Iklhas mendidik mereka, meskipun hanya 1 kali dalam 1 pekan.


Saya hanya ingin niat saya ini bermanfa'at adanya, terlepas apakah orang tua mereka atau kakek mereka merasa tidak enak dengan hal ini, tapi saya berfikir positif semua ini akan ada hikmahnya dari Allah SWT kepada kita semua. Saya tetap yakin rezeki dari Allah itu akan selalu mengalir. Bagi saya mendidik itu rezeki yang tak ternilai. InsyaAllah saya akan tetap mendidik mereka, karena Allah akan tetap memberikan pengajaran yang terbaik pada hamba-hamba-Nya yang mengikuti-Nya.

Salam

Jakarta, 06 April 2012




Monday, February 27, 2012

Jangan Pernah Merasa Kesal Ketika Anak Didik Belum Mengerti Apa Yang Kita Ajarkan

Salam...


Seorang pendidik hendaknya memahami tujuan utama mereka mendidik. Bagi saya sendiri mendidik itu merupakan suatu proses menyampaikan ilmu positif kepada setiap orang, yang dalam hal ini adalah para peserta didik. Yang namanya proses itu perlu waktu, dengan demikian setiap harapan para pendidik tentunya tidak bisa terpenuhi 100 % dikarenakan semua peserta didik memiliki kemampuan menerima ilmu yang berbeda-beda dari apa yang kita sampaikan.

Dengan demikian, sebagai pendidik harus punya komitmen untuk terus mendidik dengan baik dalam proses menyampaikan Ilmu. Jangan pernah merasa puas terhadap peserta didik yang bisa menerima ilmu yang kita sampaikan dengan baik hingga mereka mengerti dan memahami materi yang disampaikan. Dan jangan pernah kesal ketika ada peserta didik yang belum bisa memahami materi yang disampaikan meskipun materi tersebut telah kita sampaikan beberapa kali.

Sekali lagi saya menyampaikan bahwa mendidik itu suatu proses bagaimana seorang peserta didik dapat memahami dan menerima ilmu yang disampaikan. Meskipun hari ini mereka belum bisa menerima dan memahami dengan baik, namun yakinlah suatu saat mereka akan menjadi penerus bangsa yang lebih baik dari pengalaman mereka mendapatkan pendidikan dari para pendidik yang terus mengayomi mereka sejak bersekolah di tingkat dasar hingga pendidikan tinggi.

Semoga pemahaman kita terhadap proses pendidikan yang kita kerjakan saat ini akan menjadi pelajaran berharga untuk peserta didik dan kita selaku pendidik.


Salam...



Jakarta, 27 Februari 2012



Saturday, February 18, 2012

Ketika Murid-Murid Mengatakan "Ibu Gurunya Korupsi"

Salam...

Sesaat saya merasakan ada yang tidak sesuai dengan apa yang saya tunaikan selama mendidik, ketika murid-murid saya berkata dengan lantang "Ibu gurunya korupsi". Saya yakin, apa yang dikatakan murid-murid di tempat saya mengajar les bukanlah sesuatu yang bohong dan tidak masuk akal, melainkan karena ada bukti sehingga mereka berani berkata demikian.


Guru itu bagi saya adalah seseorang yang telah dianugerahkan Tuhan Amanah yang Mulia untuk menyampaikan Ilmu positif dan bermanfaat kepada orang-orang yang ada di sekitarnya, khususnya para generasi penerus kehidupan ini dimanapun mereka berada agar kehidupan ini dapat berjalan dengan aman, damai, dan sejahtera.


Jika seorang guru telah keluar dari amanah, maka saat itu pula Ilmu positif tidak lagi menjadi berkah bagi yang menerimanya, dikarenakan yang menyampaikan sudah mencoba berbohong kepada Tuhan yang telah memberikan amanah itu kepadanya. Sangat banyak bukti-bukti nyata, ketika seorang pendidik telah menyimpang dari amanah yang dikuasakan kepadanya, maka akan muncul bentuk-bentuk ketidakseimbangan seperti apa yang telah dialami oleh murid-murid di tempat saya mengajar les. Keluhan para murid merupakan bukti nyata bahwa seorang guru di tempat mereka menuntut ilmu sudah tidak amanah dalam menunaikan tugasnya.

Kita jangan pernah mengira bahwa Tuhan akan diam dan tidak memberikan teguran kepada kita. Karena menyampaikan Ilmu itu adalah tugas yang mulia dari Tuhan, maka Tuhan pasti akan memantau perbuatan kita. Hendaknya kejadian ini dapat menyadarkan dan menjadi pelajaran bagi kita semua agar senantiasa menjaga amanah-Nya dengan menunaikan tugas yang mulia ini dengan jujur dan sungguh-sungguh hingga generasi penerus kita nantinya dapat menjaga kehidupan ini dengan baik dan benar.


Jadilah pendidik yang punya komitmen untuk memajukan pemikiran dan keteguhan hati anak bangsa ini, agar senantiasa belajar dan bekerja dengan baik dalam proses pembelajaran bagi mereka menjadi orang-orang yang berguna bagi kehidupan ini baik dimasa sekarang maupun dimasa hadapan. Guru yang arif dan bijaksana adalah guru yang terus memperjuangkan pendidikan ini agar dapat berjalan sesuai dengan kebutuhan para siswa didik, hingga mereka dapat belajar dalam kehidupan ini dalam proses menjadi manusia yang memiliki cita-cita yang positif dalam membangun tatanan kehidupan ini dengan baik dan benar.


Salam...

Jakarta, 18 Februari 2012


Sunday, February 12, 2012

Bagi Saya Mendidik Itu Menjadi Solusi Dalam Menjalani Kehidupan

Salam.....

Selama mendidik begitu banyak pelajaran berharga yang saya dapatkan untuk menyelesaikan permasalahan kehidupan ini; belajar dari kondisi para murid yang memang memiliki kemampuan yang memang perlu bimbingan serius untuk kelancaran proses pendidikan mereka, belajar dari kondisi kehidupan orang tua murid yang serba pas-pasan dalam pembiayaan pendidikan anak-anaknya, juga kondisi anak yang diberikan fasilitas oleh orang tuanya namun jarang  berkumpul dan bercengkrama dengan orang tuanya.

Sekitar 12 tahun yang lalu saya saya mulai mengajar, saat itu pula saya sudah mulai belajar memahami karakter dan kemampuan para murid didik, termasuk di dalamnya kehidupan keluarganya. Kehidupan materi yang serba pas-pasan dari orang tua murid saya mengajarkan saya menjadi orang yang tidak boleh berlebihan dalam mengabdi, dalam arti bahwa jasa yang kita dapatkan dari apa yang telah kita kerjakan dalam mendidik para murid, menyampaikan ilmu dari Tuhan kepada mereka adalah suatu perbuatan yang mulia yang tidak bisa di ukur dengan materi. Saat itu pula pelajaran berharga itu mengajarkan saya bahwa mengabdi sebagai pendidik itu bukan untuk mencari materi, melainkan untuk menyampaikan Amanah Tuhan yang telah Tuhan titipkan kepada kita untuk disampaikan kepada orang-orang yang berhak menerimanya, dengan harapan bahwa nanti mereka yang menerima Ilmu Tuhan itu akan melakukan apa yang telah kita ajarkan kepada mereka. Ketika niat kita lurus untuk memberikan kebaikan kepada orang lain, Tuhan juga akan memberikan apa yang telah menjadi hak kita dengan bagian yang adil.

Waktu pertama kali saya mengajar, dari 8 kali pertemuan mengajar dalam 1 bulan saya diberikan Tuhan apa yang menjadi bagian saya yang nominalnya 1/8 dari apa yang didapatkan dari teman saya yang juga sebagai pendidik. Namun hingga saat ini saya tidak pernah mengeluhkan bagian yang telah Tuhan berikan kepada saya, karena saya yakin Tuhan Maha Adil. Inilah pelajaran yang sangat berharga bagi saya, bahwa mendidik itu perbuatan mulia yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita selaku makhluk Tuhan. Maka dari itu saya selalu menanamkan dalam diri saya bahwa berapapun bagian yang diberikan Tuhan kepada kita dari amanah yang telah kita tunaikan, maka itulah yang menjadi hak kita; tidak lebih dan tidak pula kurang.


Saya selalu berdo'a agar diberikan perlindungan oleh Tuhan dalam setiap aktivitas sehari-hari, dilancarkan dalam menunaikan amanah-Nya. Karena bagi saya do'a itu penting, untuk mengingatkan diri saya selaku Insan Tuhan. InsyaAllah semua ini bermanfa'at dan menjadi pelajaran positif bagi kita semua.


Salam....

Jakarta, 12 Februari 2012